Latest Post

[Berita]Cegat Truk Isi 8.000 Kg Kopi, Trio Begal Bersenjata Api di Way Kanan Disikat Polisi [Berita]17 Wilayah di Indonesia Masuk Zona Orange, Satgas Covid-19 Jatim: Waspada

Jakarta

Bunda pernah mendengar mirror syndrome pada ibu hamil? Mirror syndrome ternyata adalah kondisi langka yang bisa berbahaya untuk ibu hamil dan janinnya lho.

Menurut ulasan di Medical Journal Armed Forces India tahun 2010, mirror syndrome dikenal juga dengan nama sindrom Ballantyne atau triple edema syndrome. Mirror syndrome pertama kali dijelaskan pada tahun 1882 oleh John William Ballantyne.

Bila didefinisikan, sindrom ini adalah kelainan langka dan berbahaya yang dapat menyerang ibu hamil alias bumil. Kondisi mirror syndrome menggambarkan hubungan yang tak biasa antara hidrops janin dan plasenta dengan edema yang dialami bumil.




Dokter obstetri dan ginekologi, Tosin Odunsi, MD, MPH, menjelaskan bahwa mirror syndrome terjadi ketika janin mengalami kelebihan cairan yang tidak normal dan saat bumil mengalami preeklampsia. Preeklampsia adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi yang dialami selama kehamilan.

“Meski kondisi ini jarang dialami wanita hamil, mirror syndrome bisa menjadi serius dan mengancam jiwa,” kata Odunsi, dilansir Very Well Family.




Ilustrasi JaninIlustrasi Janin dalam Kandungan/ Foto: Getty Images/iStockphoto

Penyebab mirror syndrome

Mirror syndrome adalah kondisi kehamilan yang menggabungkan dua kondisi, yakni hidrops janin dan preeklampsia pada bumil. Hidrops merupakan akumulasi cairan di dua rongga jaringan atau lebih, seperti paru-paru, jantung, dan perut.

Adapun disebut ‘mirror‘ karena mencerminkan edema atau akumulasi cairan pada janin dengan edema yang dialami bumil. Edema yang diamati pada janin dan edema yang dialami bumil dengan preeklampsia adalah serupa.

Penyebab mirror syndrome tidak diketahui secara pasti, Bunda. Namun, sindrom langka ini biasanya disebabkan oleh hidrops janin. Ada berbagai jenis dan penyebab hidrops janin.

Beberapa laporan di ulasan International Journal of Clinical and Experimental Medicine tahun 2015 menyebutkan, kejadian mirror syndrome yang dipengaruhi hidrops janin disebabkan parvovirus B1 dan infeksi cytomegalovirus. Pada kasus yang jarang terjadi, kondisi ini dapat terjadi akibat hemoglobin Barts, yakni jenis hemoglobin abnormal yang terdiri dari empat globin gamma.

Seiring berkembangnya mirror syndrome ini, bumil dapat mengalami komplikasi yang mengganggu kemampuan janin untuk mengatur cairan dalam tubuhnya. Komplikasi ini juga bisa menjadi penyebab mirror syndrome, Bunda.

“Jenis komplikasi yang menyebabkan hidrops janin ini bisa berupa infeksi, sindrom genetik, masalah jantung, gangguan metabolisme, dan lainnya. Dalam beberapa kasus, bila seorang wanita hamil dengan anak kembar, sindrom transfusi dari satu bayi ke lainnya dapat menyebabkan hidrops janin,” ujar Odunsi.

“Pada akhirnya, komplikasi tersebut dapat menyebabkan preeklampsia pada ibu dan menyebabkan mirror syndrome,” sambungnya.

Gejala mirror syndrome pada bumil

Kasus mirror syndrome biasanya terjadi di akhir trimester kedua atau masuk trimester ketiga. Gejala sindrom ini perlu dikenali Bunda selama masa kehamilan agar mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Tapi, terkadang gejala sindrom ini sulit untuk dikenali karena mirip dengan tanda preeklampsia. Pemeriksaan lanjutan dibutuhkan untuk mendiagnosis kelainan langka ini, Bunda.

Berikut gejala mirror syndrome yang perlu Bunda kenali selama kehamilan:

  1. Pembengkakan (edema) yang signifikan dan parah
  2. Tekanan darah tinggi
  3. Albuminuria, yakni kandungan protein yang ditemukan dalam urine
  4. Kenaikan berat badan yang signifikan atau berat berlebihan yang naik dalam waktu singkat
  5. Kadang-kadang sindrom terdeteksi pada kondisi hemodilusi, yakni jumlah plasma dalam darah banyak, tetapi jumlah sel darah merah rendah.

Kasus mirror syndrome pada kehamilan




Ibu HamilIlustrasi Ibu Hamil/ Foto: Getty Images/iStockphoto/flukyfluky

Insiden kasus mirror syndrome pada kehamilan termasuk rendah. Beberapa temuan kasus ini telah dipublikasikan dalam jurnal. Dikutip dari BabyMed, ulasan di Fetal Diagnosis and Therapy tahun 2010 pernah melaporkan 56 kasus mirror syndrome.

Hasilnya menunjukkan hubungan mirror syndrome terkait dengan beberapa kondisi berikut ini:

  1. Isoimunisasi rhesus sebesar 29 persen
  2. Sindrom transfusi kembar-kembar 18 persen
  3. Infeksi virus 16 persen
  4. Malformasi janin, tumor janin atau plasenta 37,5 persen

Usia kehamilan saat diagnosis mirror syndrome di studi tersebut adalah antara 22 hingga 27 minggu. Hasil lain yang diamati peneliti menemukan kondisi:

  • Edema terjadi 80 sampai 100 persen
  • Hipertensi ditemukan 57 sampai 78 persen
  • Proteinuria 20 sampai 56 persen
  • Intrauterine Fetal Death (IUFD) atau kematian janin setelah usia kehamilan 20 minggu adalah 56 persen
  • Komplikasi ibu yang parah termasuk edema paru terjadi pada 21,4 persen

Para penulis studi menyimpulkan bahwa mirror syndrome dikaitkan dengan peningkatan substansial dalam kematian janin dan morbiditas ibu, Bunda.

Diagnosis mirror syndrome pada bumil

Sejauh ini, tidak ada pemeriksaan atau tes khusus yang dapat mendiagnosis mirror syndrome pada bumil. Namun, diagnosis dapat ditegakkan melalui beberapa pemeriksaan terkait, Bunda.

Berikut 5 pemeriksaan atau tes-tes yang dapat dilakukan untuk membantu diagnosis mirror syndrome:

  1. Pemeriksaan USG untuk melihat kelebihan cairan pada janin
  2. Pemeriksaan tekanan darah untuk mendeteksi preeklampsia
  3. Pemeriksaan protein dalam urine
  4. Pemeriksaan darah untuk mengetahui jumlah plasma darah dan sel darah merah
  5. Pemeriksaan sampel cairan ketuban atau amniocentesis

Pemeriksaan di atas dapat dilakukan dengan melihat gejala yang dilaporkan bumil serta melalui pengamatan dari dokter.

Komplikasi mirror syndrome




KehamilanIlustrasi Ibu Hamil/ Foto: iStock

Komplikasi mirror syndrome biasanya disebabkan adanya fetal hidrops, yakni pengumpulan cairan di dalam janin. Cairan bisa menumpuk di bawah kulit, di perut, di sekitar paru-paru, atau di sekitar jantung.

Komplikasi mirror syndrome juga dapat memicu terjadinya anemia dan gagal jantung pada bumil lho. Pada janin, komplikasi buruknya bisa menyebabkan janin meninggal dalam kandungan.

Mirror syndrome dapat menyebabkan keadaan darurat dan bisa semakin memburuk, yang dapat menyebabkan kematian,” ujar Theresa Tacy, MD, Associate Professor of Pediatrics di School of Medicine, seperti melansir dari laman Stanford.

Penanganan mirror syndrome pada bumil

Penanganan dan pengobatan mirror syndrome dapat bervariasi tergantung pada kondisi spesifik ibu dan janin. Perawatannya juga tergantung pada penyebab yang mendasari hidrops janin serta tingkat keparahan preeklamsia.

“Jika penyebabnya diketahui dan dapat diobati, penanganannya dapat meringankan gejala mirror syndrome pada ibu dan bayinya,” ujar Odunsi.

Dalam kasus preeklampsia yang serius, persalinan dapat dilakukan segera lalu menunggu gejala ibu berkurang dalam beberapa hari. Setelah bayi lahir, dia akan dirawat di newborn intensive care unit (NICU) dan dokter akan menangani hidrops serta memberikan perawatan berdasarkan penyebabnya.

Kapan bumil harus ke dokter?

Diagnosis awal yang cepat dibutuhkan untuk penanganan mirror syndrome. Jika Bunda mengalami gejala sindrom ini atau preeklampsia, perlu untuk konsultasi ke dokter.

Pastikan Bunda menjelaskan setiap gejala yang dialami pada dokter ya. Sebab, gejala mirror syndrome mirip dengan gejala preeklampsia.

Selain gejala tersebut, Bunda juga perlu rutin memantau gerakan janin. Jika gerakannya berkurang atau ada perubahan, segera ke dokter.

Jangan lupa untuk melakukan pemeriksaan kehamilan rutin minimal satu bulan sekali di trimester pertama dan kedua. Pemeriksaan dapat ditingkatkan menjadi 1 sampai 2 minggu sekali pada trimester akhir.

Bunda, yuk download aplikasi digital Allo Bank di sini. Dapatkan diskon 10 persen dan cashback 5 persen.

Simak juga 5 macam tekanan darah tinggi pada kehamilan dan cara mencegahnya, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/pri)




Sumber