Latest Post

[Berita]Iqbaal Ramadhan Blak-blakan Mencuri Sesuatu, Apa Itu? [Berita]Intip Kendaraan Komersial Canggih Besutan Fuso di GIIAS 2022

JAKARTA, creacorridor.com – Krisdayanti yang merupakan anggota Komisi IX DPR RI sekaligus selebriti mendesak Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk menyediakan vaksin cacar monyet. Ini terkait dengan kasus cacar monyet yang sekarang jadi perhatian dunia. 

“Vaksin untuk cacar monyet tetap perlu disediakan,” tulis Krisdayanti di keterangan video Instagram, dikutip MNC Portal, Sabtu (6/8/2022). 

Menurut Krisdayanti, upaya pencegahan itu lebih baik daripada mengobati. Ini artinya, tidak perlu menunggu kasusnya ditemukan di Indonesia, baru kemudian pemerintah mendatangkan vaksin cacar monyet. 

“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Tidak perlu tunggu sampai cacar monyet masuk ke Indonesia,” tulis Krisdayanti. 

Dia pun mengingatkan kepada semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat untuk mengambil banyak pelajaran dari kasus Covid-19 sebelumnya bahwa jangan gampang menyepelekan satu penyakit. 

“Cacar monyet tidak bisa disepelekan, karena menular dan penderitanya harus diisolasi,” tulisnya. 

Di sisi lain, Krisdayanti juga mengimbau agar tidak panik dan jangan menstigmatisasi cacar monyet ini. Terlebih, cacar monyet bisa disembuhkan, karena risiko kematiannya relatif kecil. 

Bicara soal vaksin cacar monyet, sampai saat ini BPOM belum memberikan lampu hijau untuk mendatangkan dua vaksin cacar monyet yang sudah mendapat persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) yaitu JYNNEOS dan ACAM2000. 

Kementerian Kesehatan pun tidak bisa mendatangkan kedua vaksin tersebut jika belum mendapat persetujuan BPOM. Terkait vaksinnya sendiri, keduanya itu memang hingga saat ini masih dalam proses penelitian. 

“Vaksin cacar monyet ini diberikan baru pada kelompok tenaga kesehatan saja untuk tujuan penelitian. Itu kenapa vaksin ini pun belum bisa diberikan ke masyarakat secara masal,” ujar Dokter Reza Y. Purwoko, SpKK, dari Pusat Riset Kedokteran Praklinis dan Klinis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Editor : Tia Ayunita

Sumber