Latest Post

[Berita]Daud Yordan Makin Tua, Siapa Petinju Muda Penerusnya? [Berita]Razman Sindir Hotman Paris, Soal Kasus Holywings

RUSIA telah memblokir laman resmi media cetak asal Inggris The Telegraph karena melaporkan invasi ke Ukraina. Surat kabar itu dituduh menyebarkan informasi palsu tentang operasi militer khusus oleh angkatan bersenjata Rusia di Ukraina.

Menurut data pemerintah Rusia, Telegraph.co.uk diblokir oleh sensor internet Roskomnadzor karena berita satir yang menggambarkan krematorium bergerak yang dapat membakar mayat tentara yang tewas di medan perang. Menteri Pertahanan Inggris, Ben Wallace mengatakan kepada surat kabar itu bahwa sistem sensor Rusia menjadi cara untuk menutupi kerugian pertempuran di masa depan.

Berita yang dipersoalkan Rusia diterbitkan The Telegraph pada 23 Februari, sehari sebelum Presiden Rusia Vladimir Putin memproklamirkan penyerangan terhadap Ukraina. Data online dari Roskomnadzor menunjukkan bahwa larangan situs The Telegraph telah disetujui pada April.

Tidak jelas mengapa larangan itu hanya diberlakukan dan diumumkan pada Juni. Isu kekalahan atas Ukraina telah menyeruak dan menjadi konsumsi publik Rusia.


Baca juga: Satu Warga Tewas setelah Rudal Rusia Hantam Kota Mykolaiv


The Telegraph menjadi surat kabar Inggris pertama yang situsnya diblokir di Rusia karena liputannya tentang perang. Situs web BBC dan sejumlah media internasional lainnya telah diblokir di Rusia karena liputan perang.

The Telegraph mengatakan, “The Telegraph bangga dengan laporannya tentang invasi ke Ukraina dan menyesali upaya Rusia untuk membatasi kebebasan pers.”

Pekan lalu, Rusia melarang 29 wartawan media asal Inggris, termasuk lima jurnalis Guardian, memasuki negara itu. Sejumlah staf The Telegraph, termasuk Chris Evans, editor, juga dilarang memasuki Rusia.

Rusia juga telah melarang aktivitas sebagian besar media independen lokal karena mengkritik perang. TV independen Rain ditutup pada Maret setelah diblokir kemudian surat kabar Novaya Gazeta menghentikan operasinya setelah peringatan pemerintah atas liputannya tentang perang.

Echo of Moscow, sebuah stasiun radio populer yang merupakan bagian dari perusahaan energi milik Rusia Gazprom, juga ditutup pada Maret karena menyiarkan laporan dan opini yang kritis terhadap perang Rusia di Ukraina. (S-2)

 


Sumber