Latest Post

[Berita]Indonesia dan Thailand U-19 Masih tanpa Gol di Babak Pertama [Berita]Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Cukai Rokok Kemenyan

MOSKOW, creacorridor.com – Mata uang Rusia, Rubel mencapai 52,3 terhadap dolar AS pada Rabu (22/6/2022). Ini merupakan level terkuat sejak Mei 2015. 

Pada Kamis (23/6/2022) sore, mata uang tersebut diperdagangkan pada 54,2 terhadap dolar AS. Meski sedikit melemah dari hari sebelumnya, namun masih mendekati level tertinggi tujuh tahun. 

Posisi tersebut jauh dari koreksi yang terjadi pada awal Maret lalu, yang berada di 139 terhadap dolar AS. Itu ketika Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa mulai memberikan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Rusia sebagai respons atas invasinya ke Ukraina. 

Melonjaknya rubel yang menakjubkan pada bulan-bulan berikutnya, menurut Kremlin sebagai bukti sanksi Barat tidak berhasil.

“Idenya jelas: hancurkan ekonomi Rusia dengan kekerasan. Mereka tidak berhasil. Jelas, itu tidak terjadi,” kata Presiden Rusia Vladimir Putin pada pekan lalu selama Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg, dikutip dari CNBC Iternational, Jumat (24/6/2022). 

Pada akhir Februari lalu, setelah kejatuhan awal rubel dan empat hari setelah invasi ke Ukraina dimulai pada 24 Februari 2022, Rusia menggandakan suku bunga utama negara itu menjadi 20 persen dari sebelumnya 9,5 persen. Sejak itu, nilai mata uang telah meningkat ke titik yang menurunkan suku bunga tiga kali hingga mencapai 11 persen pada akhir Mei.

Rubel sebenarnya menjadi sangat kuat sehingga bank sentral Rusia secara aktif mengambil langkah-langkah untuk mencoba melemahkannya. Pasalnya, mereka khawatir hal itu akan membuat ekspor negara tersebut menjadi kurang kompetitif.

Editor : Jujuk Ernawati

Terima Kasih







Sumber