Latest Post

[Berita]7 Potret Memesona Monna Frans, Aspri Hotman Paris yang Mualaf Dibimbing Gus Miftah [Berita]Indonesia dan Thailand U-19 Masih tanpa Gol di Babak Pertama

creacorridor.com – Nasida Ria kembali naik ke atas panggung pada 2016 dengan pendengar baru—yang tak pernah terlintas di pikiran para personelnya. Padahal grup musik kasidah modern yang terdiri dari 9 wanita asal Semarang itu sempat vakum di tahun 2000-an.

Sebenarnya, tidak vakum-vakum amat, sebab Nasida Ria sempat mengeluarkan beberapa album, seperti Tabah (2000), Nusantara Bersatu (2001), Satu Juta Satu (2002), P.R.T (2003), kemudian pada 2006 lahir album Air Mata Do’a dan Cahaya Ilmu (2009). 

Akan tetapi, Choliq Zain (sebagai manager Nasida Ria juga anak dari pendiri Nasida Ria, H. Mudrikah Zain), mengatakan di Whiteboard Journal (20/6/2018) bahwa “Perjalanan kami berjalan baik dan cenderung meningkat hingga 2000-an. Tetapi, setelah itu publikasi mulai berkurang. Saat itu Nasida Ria bukannya vakum. Tetap jalan, tetapi memang nama kami pada saat itu sedikit meredup.”

Dalam bukunya, Omelan: Desa, Kampung, Kota (2019), Bandung Mawardi menulis “Orang lawas tentu mengingat Semarang adalah Nasida Ria, kelompok kasidah yang sering tampil di TVRI. Nasida Ria pernah menghebohkan Indonesia, memberi dakwah merdu oleh kaum perempuan berkerudung. Mereka bermain musik dengan campuran dakwah dan hiburan. Nasida Ria itu nostalgia ….”

Mungkin karena nostalgia itu, sehingga komunitas RuangRupa pada 2016 mengundang Nasida Ria. Dampaknya, media sosial digempur dengan penggalan-penggalan lagu mereka yang fenomenal, salah satunya “Wajah Ayu untuk Siapa”. Mulai dari situ mesin pencaharian juga disibukkan dengan nama Nasida Ria oleh pendengar milenial dan generasi Z. 

Infografik Nasida Ria. (Nisa/creacorridor.com)

 

Di tahun kemunculan kembali Nasida Ria ini, penyair Dedy Tri Riyadi menulis sebuah puisi “Mendengarkan Nasida Ria” dalam buku Berlatih Solmisasi (2017). Kata Dedy, “tak seperti rindu pada suara laut / dan siluet di depan matahari yang hendak / terbenam; sore masih redam, dan / benang-benang hujan berubah / jadi pertanyaan – maukah engkau berjalan bersamaku?”

Mungkin Dedy ingin menandai bahwa Nasida Ria hadir kembali di tengah-tengah masyarakat (khususnya warga digital) atau sebuah perjumpaan pertama antara Dedy dan grup musik legenda itu. Atau mungkin dua-duanya. 

Kehadiran Nasida Ria di RRREC FEST 2016 yang diselenggarakan RuangRupa bisa dikatakan menjadi titik balik perjalanan mereka dalam menghibur pencinta musik (kasidah) di Indonesia. 

Dua tahun kemudian, Nasida Ria tampil di Synchronize Fest 2018 dan kembali diundang Synchronize Fest 2019. Banyak penonton anak muda yang hadir menyaksikan Nasida Ria. 


 

Penonton Nasida Ria yang kebanyakan dari kalangan anak muda ini kasusnya seperti Iwan Fals, Rhoma Irama, dan Ebiet G. Ade. Usia mereka sudah tua, tetapi pendengarnya tak kenal usia. 

Menurut Erie Setiawan—musikus dan penulis—saat dihubungi redaksi ERA, mengapa Nasida Ria diterima di kalangan anak muda. 

Menurut Erie, “Nasida Ria sudah terlegitimasi sebagai legenda, sama seperti Rhoma Irama, God Bless, dan Leo Kristi. Sebagai legenda hidup, pasti punya kekuatan, sudah punya massa sendiri yang solid, dan pendengar mereka masih ada. Yang tua-tua yang mendengar Nasida Ria, dari dulu hingga sekarang. Mereka memutar Nasida Ria di rumah dan memperkenalkan Nasida Ria ke keluarganya. Itu salah satu sebagai upaya atau metode juga untuk mewariskan selera.”

Ada kemungkinan bahwa pendengar muda ini dipengaruhi oleh keluarga dan kerabat yang mencintai Nasida Ria sejak awal. Hal itu disebut pewarisan selera. Atau sudah punya preferensi atau wawasan musik sebelumnya.

Akan tetapi, Erie juga menambahkan bahwa di zaman milenial sekarang “Suka karena ikut arus, karena ikut tren. Tadinya, enggak suka, tetapi ini lagi trending nih, lagi [Nasida Ria] ke Jerman, orang akhirnya cari tahu dengan segala cara di internet dan segala macam. Padahal, sebelumnya enggak tahu, karena lagi trending akhirnya cari tahu.”

Nasida Ria baru saja tampil di panggung Opening Week Music Program Documenta Fifteen di Kassel, Jerman, pada 18 Juni 2022. Poster dan tampilan mereka di Opening Week tersebut berseliweran di beranda media sosial. 

Dilihat dari jejak digital, bukan kali pertama Nasida Ria tampil di negara yang pernah dipimpin oleh Hitler tersebut. Pada 1990-an, Nasida Ria pernah diundang oleh Haus der Kulturen der Welt (pusat nasional untuk seni kontemporer non-Eropa yang terletak di Berlin) untuk bermain di Die Garten des Islam (Pameran Budaya Islam), Berlin. Dan, yang kedua tampil di Festival Heimatklange, dengan acara di Berlin, Mülheim, dan Düsseldorf.

Konsistensi Nasida Ria membuat mereka bertahan hingga sekarang. Walau sempat gagap menghadapi era digital, akhirnya di bawah Nasida Ria Management, mereka tetap eksis dan semakin moncer. Sekarang, mereka gabungan dari generasi pertama, generasi kedua, dan ketiga, yang berjumlah 12 personel. Bahkan, mereka telah menyiapkan generasi keempat. 

Agar masih relevan dengan zaman, Nasida Ria mengoptimalkan platform digital yang tersedia, dari YouTube hingga Spotify. Ketika pandemi, pertengahan 2020, Nasida Ria terlibat berpartisipasi dalam pengumpulan dana dengan platform digital dengan nama acara “Panggung Kahanan”. Di Agustus 2021, mereka juga ikut dalam aktivitas donasi dalam acara “Konser Amal Kemerdekaan”.

Tag:
Kasidah
Profil Nasida Ria
nasida ria
musik
sejarah nasida ria

Sumber