Latest Post

[Berita]Indonesia dan Thailand U-19 Masih tanpa Gol di Babak Pertama [Berita]Pemerintah Tetapkan Tarif Baru Cukai Rokok Kemenyan

JAKARTA, creacorridor.com – Tradisi adat perlahan mulai ditinggalkan. Namun bagi mereka yang tetap memegang teguh warisan budaya tersebut, biasanya hal itu justru menjadi sebuah keunikan tersendiri. 

Hal ini sebagaimana yang tercermin pada Desa Wisata Hilisimaetanö yang merupakan salah satu pemukiman adat tertua di tanah Nias Selatan. Hingga kini, Desa Hilisimaetanö masih teguh menjaga nilai adat istiadat serta peninggalan para leluhur mereka dari setiap jengkal wilayahnya. 
Siapa saja yang akan memasuki desa tersebut akan langsung disambut sebuah Batu Megalitik yang menandakan pada zaman megalitikum masyarakat Nias menggunakan peralatan dari batu besar. 

Selanjutnya, terdapat 50 rumah adat yang bangunannya masih terpelihara dengan baik. Namun sangat disayangkan, ada satu rumah adat tertua yang runtuh akibat dampak dari tsunami Aceh pada 2004.

Tidak hanya itu saja, sistem pemerintahan yang dijalankan pun masih mengikuti sistem adat. Sistem kepemimpinan adat desa masih dipegang oleh Si’ulu atau Raja yang merupakan kaum bangsawan Nias. Kemudian, para cendikiawan atau yang disebut Si’ila berperan sebagai pemberi nasihat kepada bangsawan, dimana Dan Sato atau Fa’abanuasa (masyarakat) yang terus bergotong-royong dalam menjaga Lakhömi mbanua (marwah desa).

Ada juga tradisi lompat batu atau yang disebut fahombo yang telah menjadi suguhan atraksi yang sangat menarik bagi wisatawan. Tradisi lompat batu itu biasanya dilakukan para pemuda dengan cara melompati tumpukan batu setinggi kurang lebih dua meter!. Ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa mereka pantas dianggap dewasa dan dapat memberikan sebuah kebanggaan tersendiri bagi keluarga mereka.

Kendati demikian, tidak semua anak laki-laki sanggup melakukan tradisi ini, karena walaupun mereka dilatih sejak dini, masyarakat setempat percaya ada keterlibatan magis dari roh leluhur yang membuat mereka berhasil melompati batu dengan sempurna.

Tak berhenti sampai di situ, Desa Hilisimaetanö juga punya ritual kuno bernama ‘famadaya harimao’. Ritual ini dilaksanakan tiap 14 tahun sekali dengan mengarak patung yang menyerupai harimau (lawölö fatao) untuk penyucian dan pembaharuan atas hukum-hukum adat yang berlaku di seluruh daerah Maniamölö. Setelah famadaya harimau selesai, dilanjutkan dengan membaca doa-doa kuno yang disebut fo’ere. 

Desa ini juga memiliki tradisi kerajinan tangan atau kriya yang masih dilakukan sampai sekarang, diantaranya anyaman topi caping, pahatan, ukiran, dan manöfa atau pedang besi. Dahulu, manöfa difungsikan sebagai alat perang masyarakat Nias, yang jika mereka menang melawan musuh, kepala musuh akan disematkan pada ujung sarung pedang.

Pengembangan Desa Wisata

Seluruh keunikan tradisi adat dan keteguhan masyarakat desa dalam menjaga warisan budaya itu membuat Desa Hilisimaetanö sangat menjanjikan untuk menjadi sebuah destinasi wisata. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI Sandiaga Salahuddin Uno yang berkunjung langsung pada Rabu, 22 Juni 2022 pun sampai dibuat terpesona.

Menparekraf Sandiaga lantas berencana untuk menjadikan Desa Hilisimaetanö sebagai desa wisata berkelanjutan dengan melakukan beberapa pembenahan dan peningkatan fasilitas umum seperti toilet dan homestay hingga melakukan pendampingan dan pelatihan kepada warga setempat. 

“Kita akan memberikan pendampingan, pelatihan, kita akan ada peningkatan destinasi wisata lainnya, seperti toilet, begitupun dengan homestay karena di sini hanya ada satu, kita akan tingkatkan, juga kita ingin jadikan desa wisata ini sebagai tujuan wisata selagi ada WSL Pro, untuk membangkitkan ekonomi masyarakat,” katanya dikutip pada Kamis (23/6/2022).

“Kita juga akan meningkatkan desa wisata ini agar menjadi desa wisata berkelanjutan, kita akan kembangkan produk ekonomi kreatifnya, sehingga lapangan kerja terbuka dan penghasilan masyarakat meningkat,” ucap Sandiaga Uno.

Editor : Tia Ayunita

Sumber