Latest Post

[Berita]Promo Liburan, Nail Art dan Eyelash Extension Cuma Rp165 Ribu! [Berita]4 Fakta Menarik Film Umma, Bikin Bergidik

JAKARTA, creacorridor.com – Singapura juga disebut-sebut oleh mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dalam pernyataan kontroversialnya di Kongres Survival Melayu, Minggu (19/6/2022), di Negara Bagian Selangor. Dia mengatakan Negara Bagian Johor seharusnya menarik kembali Singapura masuk Malaysia setelah terlepas.

Sebelum dikenal sebagai negara kaya nan maju seperti saat ini, Singapura pernah mengalami masa-masa sulit dan kelam. Di akhir Perang Dunia II, Singapura yang kala itu sudah lepas dari penjajahan Jepang, menjadi daerah kekuasaan Inggris. Setelah itu, masyarakat Singapura menyerukan kemerdekaan, menginginkan merdeka yang berdiri sendiri.

Melihat kondisi yang kurang kondusif itu, Inggris mulai mempersiapkan pemerintahan otonomi bagi Singapura dan Malaysia. Namun pada 1 April 1946, Permukiman Selat (julukan untuk wilayah permukiman Inggris di Asia Tenggara) dibubarkan. Singapura lalu masuk dalam koloni kerajaan terpisah dan dipimpin gubernur. Kemudian pada 1947, Singapura memiliki dewan legislatif dan eksekutif sendiri yang terpisah dari kerajaan. 

Keinginan Singapura untuk merdeka tak sampai di situ. Pada 1955, seorang pimpinan partai besar Singapura, David Marshall, terbang ke London untuk bertemu pemerintah Inggris. Dia meminta agar Singapura menjadi negara merdeka seutuhnya. Namun permintaannya ditolak. Marshall kemudian digantikan oleh Lim Yew Hock. 

Di masa pemerintahan Hock, Singapura berhasil mendapat kewenangan penuh dari Inggris untuk bisa menjalankan pemerintahan sendiri. Namun dengan catatan, Singapura tidak bisa mengurus urusan pertahanan dan hubungan luar negeri secara independen. Dapat dipastikan, keputusan ini cukup mengikat dan tidak memberikan kemerdekaan penuh bagi Negeri Singa. 

Singapura kemudian menggelar pemilu pertamanya pada 1959 hingga memilih PAP (People Action Party atau Partai Aksi Rakyat) sebagai pemenang. Para anggota dan pimpinan PAP meyakini bahwa Singapura akan kokoh jika bergabung dengan Malaysia karena keduanya memiliki sejarah panjang yang kuat, apalagi di bidang ekonomi. Ajuan penggabungan Singapura dengan Malaysia pun dicetuskan dan terwujud pada 1962.

Editor : Anton Suhartono

Terima Kasih







Sumber